Presiden Jokowi Bersama ICMI Pada Silatnas Dan Hut Ke 27
Sabtu, 09 Desember 2017 | 0 komentar
Save Yerusalem Setelah Presiden Jokowi Kini Giliran Presiden Erdogan
Jumat, 08 Desember 2017 | 0 komentar
Sang Pemberani
Udah Lihat Toch Yang Nama Nya
Langkah Gajah / Bishop Jokowi
Jokower Dan Cebongers
#_Save_Yerusalem_Palestina_#
Keberanian Jokowi Mengecam Keras Pengakuan Sepihak Donal Trump Atas Yerusalem Sebagai Ibu Kota Israel
Kamis, 07 Desember 2017 | 0 komentar
Survei 61,8 Persen Rakyat Indonesia Ingin Jokowi Kembali Jadi Presiden
Senin, 04 Desember 2017 | 0 komentar
4 Desember 2017
Presiden Joko Widodo kembali dinanti untuk menjadi presiden pada periode 2019-2024. Hal itu tercermin dalam survei Indo Barometer yang dirilis di Hotel Atlet Century Park, Jakarta, Minggu (3/12/2017).
Dalam survei tersebut, sebanyak 61,8 persen responden menginginkan Jokowi kembali menjadi presiden.
"Mayoritas publik, 61,8 persen, menginginkan Joko Widodo kembali menjadi Presiden untuk periode 2019-2024," ucap Direktur Eksekutif Indo Barometer Muhammad Qodari dalam paparannya.
"Yang tidak menginginkan kembali 23,6 persen. Dan yang tidak tahu atau tidak menjawab 14,7 persen," kata Qodari.
Sementara itu, elektabikitas Jokowi berada di angka 34,9 persen berdasarkan pertanyaan terbuka. Namun, jika berdasarkan pertanyaan tertutup dan hanya dibatasi 16 capres, elektabilitas Jokowi naik menjadi 41,8 persen.
Sedangkan jika diajukan pertanyaan tertutup dan capres dibatasi enam nama, elektabilitas Jokowi meningkat menjadi 44,9 persen.
Selain itu, Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto masih diprediksi menjadi pesaing utama Jokowi pada Pemilu 2019.
Berdasarkan pertanyaan terbuka, elektabilitas Prabowo berada di angka 12,1 persen. Jika didasarkan pada pertanyaan tertutup dan jumlah capres dibatasi 16 capres, elektabilitas Prabowo naik menjadi 13,6 persen.
Sedangkan jika jumlah capres dibatasi 6 nama, elektabilitas Prabowo naik tak signifikan menjadi 13,8 persen.
"Tren elektabilitas Joko Widodo sejak 2015-2017 perlahan semakin meningkat. Meski sempat melemah pada September 2015. Sementara elektabilitas Prabowo Subianto sejak 2015-2017 mengalami fluktuasi," ujar Qodari.
"(Prabowo) sempat naik pada September 2015 dan melemah pada Oktober 2016. Pada Maret 2017 sempat beranjak namun melemah kembali pada November 2017," tutur dia.
Survei Indo Barometer dilaksanakan pada 15-23 November 2017 di 34 provinsi di Indonesia. Jumlah sampel sebanyak 1.200 responden dengan margin of error sebesar 2,83 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen.
Survei ini menggunakan metode multistage random sampling.
Kompas TV , Joko Widodo memiliki elektabilitas sebesar 53,2% sementara Prabowo Subianto memiliki elektabilitas sebesar 33,0%.
#Salam_JKW2P
Bungkukkan Badan, Jokowi Beri Hormat Ke Puluhan Ribu Guru
Sabtu, 02 Desember 2017 | 0 komentar
Foto : Jokowi Beri Hormat Ke Puluhan Ribu Guru
Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyampaikan komitmen untuk melaksanakan Undang-Undang Guru dan Dosen dengan baik, mendorong sertifikasi, dan tidak pernah akan menghentikan tunjangan profesi guru.
Hal tersebut disampaikan Presiden Jokowi sebagai respons pertama dari permohonan Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) dalam sambutan awal saat acara puncak Peringatan Hari Guru Nasional ke-72 di Stadion Patriot Candrabhaga Bekasi, Sabtu (2/12).
“Saya percaya peningkatan mutu guru perlu dibarengi dengan kebaikan kesejahteraan yang tentu harus disesuaikan dengan kemampuan negara. Karena itu, saya mohon agar persoalan sertifikasi dapat dilaksanakan dengan baik dan tunjangan profesi bagi guru yang telah disertifikasi dibayarkan tepat waktu dan tepat jumlah,” ujar Presiden.
Lebih lanjut, Presiden juga menyampaikan kalau akan mengecek dan mengontrol hal itu. Ia juga menambahkan tidak ingin mendengar berbagai keluhan proses pencairan dan keterlambatan tunjangan profesi karena negara telah mengalokasikannya dengan baik.
Dalam kesempatan tersebut, Presiden juga menyampaikan komitmen sebagai bentuk penghargaannya kepada guru. Ia juga meminta agar kerja sama dan koordinasi aparat pusat dan daerah harus semakin ditingkatkan.
“Yang kedua, tugas guru adalah mendidik dengan sebaik-baiknya terhadap siswa-siswanya. Seharusnya tugas guru lebih banyak bersama peserta didik agar terjadi proses pendidikan yang berkualitas,” tambah Kepala Negara.
Presiden Jokowi saat berikan sambutan di Stadion Patriot Chandrabaga, Bekasi, Sabtu (2/12). (Foto: Humas/Jay)
Presiden Jokowi saat berikan sambutan di Stadion Patriot Chandrabaga, Bekasi, Sabtu (2/12). (Foto: Humas/Jay)
Berbagai urusan administrasi, lanjut Presiden, yang menjadi keluhan guru dalam beragam bentuk seperti kenaikan pangkat, sertifikasi, pencairan tunjangan profesi, inpassing bagi guru swasta dan yang lain-lainnya seharusnya dapat disederhanakan. Ia menambahkan agar pengurusan administrasi jangan lagi ruwet-ruwet dan mbulet-mbulet sehingga semuanya harus dapat disederhanakan.
“Ini saya titip kepada Mendikbud, kepada Menpan, kepada Gubernur, kepada Bupati, kepada Wali Kota, jika pelayanan publik sekarang sudah jauh lebih baik, terbuka dan transparan, saya harap sistem layanan tata kelola guru pusat dan daerah juga bisa lebih cepat, lebih efektif, dan lebih efisien,” tambah Presiden.
Yang ketiga, sambung Presiden, bahwa betul negara Indonesia sekarang ini sedang giat membangun infrastruktur agar terjadi pertumbuhan ekonomi yang merata di seluruh tanah air. Untuk itu, lanjut Presiden, kekurangan guru akan diisi secara bertahap sesuai kemampuan pemerintah dengan mengedepankan meritrokasi.
“Guru-guru yang telah mengabdi lama sepanjang memiliki kualifikasi dan kompetensi, akan diberikan kesempatan terlebih dahulu, jangan ditutup kesempatan mereka. Sedangkan guru-guru 3T, guru yang berada pada posisi terdepan, terluar, tertinggal, yang telah mengabdi puluhan tahun, yang memiliki kompetensi dan kualifikasi, harus diberikan prioritas,” jelas Presiden Jokowi.
Pemerintah, menurut Presiden, tidak akan meninggalkan para guru yang telah mengabdi dengan gigih. “Kita harus sabar dan yakin untuk bersama-sama membangun negeri ini. Ada banyak ruang untuk membantu guru. Seperti melalui bantuan BOS dari waktu-waktu akan diperbaiki jumlah, maupun kualitas dan lain-lainnya,” tutur Presiden.
Kepala Negara juga meminta agar Kemdikbud, Kemenpan, BKN, dan Pemda melakukan rapat koordinasi untuk memastikan pengisian kekurangan guru bisa dilakukan dengan baik tanpa meninggalkan kesempatan bagi guru tidak tetap.
Di bagian akhir sambutan, Presiden Jokowi menyampaikan bahwa kesadaran untuk maju demi masa depan bangsa ini sangat diperlukan dari elemen bangsa utamanya dunia pendidikan dan guru.
“Oleh karena itu, saya menitipkan masa depan bangsa ini kepada abdi negara agar mengurus pendidikan secara benar serta komitmen guru untuk memberikan yang terbaik dalam melaksanakan pengabdian bagi anak didik kita, generasi penerus kita dan penentu masa depan kita,” pungkas Presiden.
Aspirasi PGRI
Sebelumnya, Unifah Rosyidi, dalam sambutan sebagai Ketua Umum PGRI, menyampaikan harapan agar Presiden Jokowi mendengar suara guru, pendidik, dan tenaga kependidikan.
Ia menambahkan bahwa masalah administrasi, kesejahteraan, dan pengisian guru untuk daerah terdepan, terluar, serta tertinggal menjadi perhatian Presiden Jokowi.
“PGRI secara konsisten memperjuangkan aspirasi anggota yang kami suarakan dengan cara-cara yang mengedepankan nilai-nilai kesantuan, etika, dan dialog melalui pemikiran yang rasional berbasis data,” ungkap Unifah saat menyampaikan harapan kepada Presiden Jokowi.
Turut hadir mendampingi Presiden Jokowi dalam acara tersebut, Mendikbud Muhadjir Effendy, KSP Teten Masduki, dan Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan. (RMI/JAY/EN)
Foto : Awaludin Ibrahim Darise
( Terimakasih Guru )
Presiden Bersama Habib Jindan Dan Anak Yatim Peringati Maulid Nabi Di Istana Bogor.
Jumat, 01 Desember 2017 | 0 komentar
Presiden Bersama Habib Jindan Dan Anak Yatim Peringati Maulid Nabi Di Istana Bogor
Memperingati Maulid Nabi Bersama Jokowi, Habib Jindan
| 0 komentar
Memperingati Maulid Nabi Bersama Jokowi, Habib Jindan: Islam Tak Dibela dengan Caci Maki, Tapi dengan Rahmat
1 Desember 2017
Peringatan Maulid Nabi 1439 Hijriah di Istana Bogor mengundang Habib Jindan bin Novel bin Salim Jindan dari Yayasan Al Fachriyah, Tangerang, Banten. Habib Jindan bertausiah dengan tema 'Moderasi Dakwah Nabi Muhammad SAW dalam Mewujudkan Harmoni Kehidupan'.
"Nabi menjawab, dalam situasi perang, 'saya diutus Allah bukan untuk jadi tukang caci maki. Aku, walaupun perang, diutus untuk memberi rahmat'," kata Habib Jindan di Istana Bogor, Kota Bogor, Jawa Barat, Kamis (30/11/2017) malam.
Presiden Joko Widodo didampingi Menko Wiranto dan Menag Lukman Hakim Saifuddin duduk di barisan paling depan. Mengikuti di belakangnya adalah anak-anak yatim dari berbagai pondok pesantren.
Hadir pula para duta besar dari negara sahabat. Sejumlah menteri Kabinet Kerja hingga Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dan KSAU Marsekal Hadi Tjahjanto pun hadir.
"Allah menyatakan, 'sesungguhnya dengan rahmat Allah engkau bersikap lemah lembut'," imbuh Habib Jindan.
Menurut dia, Nabi Muhammad SAW selama berdakwah selalu mendapat halangan dari para penolaknya. Tetapi hal itu bahkan tak membuat Rasulullah berlaku kasar kepada mereka.
Bahkan, kata dia, Nabi Muhammad selalu berpesan kepada panglima perangnya untuk tidak mengejar musuh yang sudah berpaling. Sementara bila musuh menyerang, jangan pula langsung menyerang.
"Ajak mereka dalam agama Islam. Tawarkan mereka ajaran Islam hingga mereka berhenti memerangi kita," kata Habib Jindan.
Nabi Muhammad selalu bertutur kata lembut dan memiliki suara yang merdu, kata Habib Jindan. Sehingga dirinya tak pernah mencaci orang lain.
"Agama Islam tidak dibela dengan cacian, makian. Agama Islam dibela dengan rahmat, kasih sayang dan kegigihan," tutur Habib Jindan.
Sementara menurut dia, masih ada orang yang berdalih mengamalkan 'amar maruf nahi munkar' dan membuat mereka mencaci maki. Namun itu disebut Habib Jindan merupakan hal salah.
"Kita harus melakukan amar maruf dengan cara yang maruf, menyampaikan kebaikan dengan cara yang baik. Juga nahi munkar dengan cara yang maruf. Bukan melakukan amar maruf dengan cara yang munkar," ujar dia.
LIKE&SHARE FANPAGE/HALAMAN
PROJO PALU SULAWESI TENGAH
Continue Reading
1 Desember 2017
Peringatan Maulid Nabi 1439 Hijriah di Istana Bogor mengundang Habib Jindan bin Novel bin Salim Jindan dari Yayasan Al Fachriyah, Tangerang, Banten. Habib Jindan bertausiah dengan tema 'Moderasi Dakwah Nabi Muhammad SAW dalam Mewujudkan Harmoni Kehidupan'.
"Nabi menjawab, dalam situasi perang, 'saya diutus Allah bukan untuk jadi tukang caci maki. Aku, walaupun perang, diutus untuk memberi rahmat'," kata Habib Jindan di Istana Bogor, Kota Bogor, Jawa Barat, Kamis (30/11/2017) malam.
Presiden Joko Widodo didampingi Menko Wiranto dan Menag Lukman Hakim Saifuddin duduk di barisan paling depan. Mengikuti di belakangnya adalah anak-anak yatim dari berbagai pondok pesantren.
Hadir pula para duta besar dari negara sahabat. Sejumlah menteri Kabinet Kerja hingga Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dan KSAU Marsekal Hadi Tjahjanto pun hadir.
"Allah menyatakan, 'sesungguhnya dengan rahmat Allah engkau bersikap lemah lembut'," imbuh Habib Jindan.
Menurut dia, Nabi Muhammad SAW selama berdakwah selalu mendapat halangan dari para penolaknya. Tetapi hal itu bahkan tak membuat Rasulullah berlaku kasar kepada mereka.
Bahkan, kata dia, Nabi Muhammad selalu berpesan kepada panglima perangnya untuk tidak mengejar musuh yang sudah berpaling. Sementara bila musuh menyerang, jangan pula langsung menyerang.
"Ajak mereka dalam agama Islam. Tawarkan mereka ajaran Islam hingga mereka berhenti memerangi kita," kata Habib Jindan.
Nabi Muhammad selalu bertutur kata lembut dan memiliki suara yang merdu, kata Habib Jindan. Sehingga dirinya tak pernah mencaci orang lain.
"Agama Islam tidak dibela dengan cacian, makian. Agama Islam dibela dengan rahmat, kasih sayang dan kegigihan," tutur Habib Jindan.
Sementara menurut dia, masih ada orang yang berdalih mengamalkan 'amar maruf nahi munkar' dan membuat mereka mencaci maki. Namun itu disebut Habib Jindan merupakan hal salah.
"Kita harus melakukan amar maruf dengan cara yang maruf, menyampaikan kebaikan dengan cara yang baik. Juga nahi munkar dengan cara yang maruf. Bukan melakukan amar maruf dengan cara yang munkar," ujar dia.
LIKE&SHARE FANPAGE/HALAMAN
PROJO PALU SULAWESI TENGAH
Langganan:
Postingan (Atom)







